pengaraman
PENGGARAMAN
Pengertian
Penggaraman merupakan suatu metode yang dilakukan untuk
mengawetkan produk hasil perikanan dengan menggunakan garam (NaCl). Pada proses penggaraman, pengawetan dilakukan
dengan cara mengurangi kadar air dalam tubuh ikan dan dalam tubuh bakteri
sehingga bakteri tidak dapat hidup dan berkembang lagi.
Istilah penggaraman juga sering disebut pengasinan. Teknologi penggaraman biasanya tidak
digunakan sebagai metode pengawetan tunggal, tetapi masih dilanjutkan dengan
proses pengawetan lain seperti pengeringan ataupun dengan perebusan. Proses
lanjutan ini akan menghasilkan tiga macam produk ikan asin yang berbeda, yaitu:
ikan asin basah, ikan asin kering dan ikan asin rebus (ikan pindang).
Metode pengawetan dengan garam merupakan metode yang paling
sederhana dan banyak dilakukan oleh pengolah ikan. Hampir 65% produk perikanan
masih diolah dan diawetkan dengan penggaraman. Hal ini menyebabkan produk ikan
asin merupakan produk yang mudah dijumpai di seluruh wilayah Indonesia. Ada
beberapa alasan mengapa metode penggaraman merupakan metode pengawetan ikan
yang banyak dilakukan, antara lain:
a. Teknik penggaraman merupakan teknik yang sederhana dan
dapat dilakukan oleh semua orang.
b. Teknik penggaraman merupakan teknik yang murah dilihat
dari segi biaya produksi.
c. Hasil olahan penggaraman yang dikombinasikan dengan
pengeringan mempunyai daya awet/daya tahan yang lama dan tidak memerlukan
perlakuan khusus sehingga pemasarannya sangat luas.
d. Produk ikan asin harganya murah sehingga dapat dijangkau
oleh semua lapisan masyarakat.
Prinsip Penggaraman
Proses penggaraman merupakan cara pengawetan ikan dengan
menggunakan garam sebagai media pengawet. Jenis garam yang digunakan adalah
garam dapur yang berbentuk kristal maupun larutan. Melalui penggaraman,
aktivitas mikroorganisme terutama bakteri akan terhambat, sehingga ikan menjadi
awet dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Selama proses penggaraman, terjadi proses penetrasi garam ke
dalam tubuh ikan. Sebaliknya, cairan
dalam tubuh ikan akan keluar karena adanya perbedaan konsentrasi. Setelah
terjadi persamaan konsentrasi garam antara tubuh ikan dan lingkungannya, maka
pada saat itu terjadi pengentalan cairan tubuh yang masih tersisa dan
penggumpalan protein (denaturasi) serta pengerutan sel-sel tubuh ikan sehingga
sifat dagingnya berubah.
Mekanisme cara
pengawetan ikan dengan garam adalah sebagai berikut:
a. Garam menyerap air dari dalam tubuh ikan melalui proses
osmosa. Kandungan air dalam tubuh ikan
berkurang. Kekurangan air didalam tubuh
ikan sebagai media untuk pertumbuhan bakteri menyebabkan proses metabolisme
dalam tubuh bakteri terganggu.
b. Garam juga
menyerap air dari dalam tubuh bakteri sehingga bakteri akan mengalami
plasmolisis (pemisahan inti plasma) sehingga bakteri akan mati.
Pada proses pengawetan dengan metode penggaraman, garam
merupakan faktor penting yang harus mendapat perhatian. Kemurnian garam yang
digunakan akan mempengaruhi mutu ikan asin sebagai produk akhir yang
dihasilkan. Garam yang digunakan pada
proses pengawetan produk hasil perikanan sebaiknya merupakan garam murni yaitu
garam yang komposisi NaClnya besar (95%) dan sedikit mengandung unsur-unsur
lain seperti MgCl2, CaCl2, MgSO4, CaSO4, lumpur serta kotoran lainnya. Jenis
garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik
dan sedang. Dikatakan baik sekali jika mengandung kadar NaCl >95%, baik jika
kadar NaCl 90–95%, dan sedang jika kadar NaCl antara 80–90%.


Komentar
Posting Komentar